Memiliki anak merupakan impian dari banyak pasangan suami-istri. Untuk beberapa pasangan, memiliki anak laki-laki atau perempuan bukan menjadi masalah. Namun, ada pula pasangan yang ingin memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu.

Ada berbagai alasan yang menyebabkan orang tua menginginkan anak dengan jenis kelamin tertentu, mulai dari preferensi masing-masing, sosial budaya, hingga masalah finansial (misalnya, anak laki-laki untuk meneruskan usaha keluarga).

Alasan kesehatan, seperti adanya kelainan genetik yang bisa diturunkan orangtua kepada anak dengan jenis kelamin tertentu, juga bisa menjadi alasan serius bagi pasangan untuk bisa menentukan jenis kelamin anak mereka.

Bagaimana jenis kelamin bayi ditentukan?

Jenis kelamin manusia ditentukan berdasarkan komposisi kromosom seks ketika terjadi pembuahan. Manusia memiliki 23 pasang kromosom, di mana satu pasang diantaranya adalah kromosom seks. Kromosom seks pada laki-laki terdiri dari X dan Y, sedangkan pada perempuan terdiri dari X dan X.

Ovum atau sel telur pada wanita selalu memiliki kromosom X, sedangkan sperma pada pria bisa memiliki kromosom X maupun Y. Ketika sperma bertemu dengan sel telur dan terjadi pembuahan, sperma yang nanti akan menentukan apakah janin memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan.

Sperma dengan kromosom Y akan menghasilkan anak laki-laki, sedangkan sperma dengan kromosom X akan menghasilkan anak perempuan. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu Anda menentukan jenis kelamin janin di dalam rahim. Anda bisa memilih antara cara alami atau dengan teknologi.

Cara alami yang paling sering dilakukan adalah dengan menggunakan metode Shettles. Sementara, dengan teknologi, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan seperti inseminasi buatan atau bayi tabung.

Menentukan jenis kelamin bayi dengan metode Shettles

Melansir dari The Embryo Project Encyclopedia, metode Shettles dikembangkan oleh dr. Landrum B. Shettles yang dituangkannya dalam sebuah buku berjudul Your Baby’s Sex: Now You Can Choose.

Berikut ini adalah cara yang dapat diterapkan dalam metode Shettles untuk masing-masing jenis kelamin.

1. Jenis kelamin laki-laki

Sperma pembawa kromosom laki-laki ukurannya lebih kecil, pergerakannya lebih cepat, tetapi memiliki usia yang lebih singkat dibanding sperma pembawa kromosom perempuan.

Berkat sifat tersebut, Shettles berpendapat bahwa waktu terbaik untuk melakukan hubungan seksual jika ingin memiliki anak laki-laki adalah ketika sudah tiba waktu pelepasan sel telur (ovulasi) hingga 2-3 hari setelahnya. Dengan begitu, sperma laki-laki akan lebih cepat membuahi sel telur, dibandingkan sperma perempuan.

2. Jenis kelamin perempuan

Berbeda dari sperma laki-laki, sperma perempuan memiliki usia yang lebih panjang dibandingkan dengan sperma laki-laki, tetapi pergerakannya lebih lambat.

Oleh karena itu, waktu yang tepat untuk melakukan hubungan seksual adalah beberapa hari sebelum dan setelah terjadinya ovulasi. Artinya, Anda bisa langsung melakukan hubungan seksual setelah periode menstruasi selesai. Tujuannya agar hanya sperma perempuan yang berusia lebih panjang yang akan membuah sel telur.

Dilaporkan bahwa metode Shettles memiliki efektivitas hingga 75%. Jadi, perlu diingat bahwa masih ada 25% kemungkinan bahwa jenis kelamin anak Anda akan berbeda dengan yang Anda inginkan. Selain itu, ada juga beberapa penelitian lain yang membantah metode Shettles. Meski begitu, tidak ada salahnya jika Anda ingin mencoba metode ini membantu memengaruhi jenis kelamin janin yang akan dikandung.

Menentukan jenis kelamin bayi dengan inseminasi buatan dan bayi tabung

Inseminasi buatan dan bayi tabung merupakan metode yang paling akurat untuk membantu Anda menentukan jenis kelamin anak. Namun, perlu diingat bahwa keduanya memerlukan biaya yang cukup besar dan mengharuskan Anda untuk mengonsumsi obat tertentu. Berikut ini adalah masing-masing penjelasannya.

1. Inseminasi buatan

Untuk melakukan inseminasi buatan, sperma akan ditempatkan lebih dekat dengan lokasi tempat terjadinya pembuahan (pertemuan antara sperma dengan ovum).

Metode inseminasi buatan yang sering dilakukan adalah inseminasi intrauterin. Dengan menggunakan alat khusus berbentuk tabung kecil, dokter akan memasukkan sperma langsung ke dalam rahim.

2. Bayi tabung

Berbeda dengan inseminasi buatan, pembuahan pada metode bayi tabung terjadi di luar rahim. Dokter akan meminta Anda untuk mengonsumsi obat pemicu kesuburan agar Anda menghasilkan lebih dari satu sel telur. Sel telur yang dihasilkan akan diambil dan dipertemukan dengan sperma di dalam sebuah cawan petri.

Setelah 3-5 hari, hasil pembuahan yang sekarang telah menjadi embrio akan dimasukkan ke dalam rahim. Biasanya, jika usia Anda di bawah 35 tahun dan dalam kondisi sehat, jumlah embrio yang akan ditanam tidak lebih dari dua.

Kedua metode tersebut terlihat berbeda, tetapi ada satu tahapan yang sama, yaitu memilih jenis kelamin sperma yang diinginkan. Ada beberapa metode yang dapat digunakan, salah satunya adalah metode swim up.

Dengan metode ini, sperma laki-laki akan diambil, diletakkan dalam sebuah tabung yang berisi nutrisi untuk sperma, dan kemudian disentrifuse. Setelah itu, akan terjadi pemisahan antara cairan semen, yaitu sperma yang abnormal dan mati dengan sperma yang normal dan sehat.

Dari lapisan sperma yang normal, sperma laki-laki akan lebih cepat berenang ke arah permukaan dibandingkan dengan sperma perempuan. Maka dari itu, jika Anda menginginkan anak laki-laki, sperma inilah yang akan diambil untuk dibuahi dengan sel telur.

Jika Anda tertarik untuk melakukan metode bayi tabung atau inseminasi buatan, Anda bisa menghubungi dokter spesialis kandungan, terutama yang bergerak di bidang fertilitas. Jika Anda sedang merencanakan kehamilan, para ahli menyarankan untuk berhubungan seks setiap hari hingga beberapa hari sekali, terutama di sekitar waktu ovulasi.

Konsultasikan dengan dokter Anda jika upaya Anda belum berhasil setelah satu tahun atau lebih cepat jika Anda berusia di atas 35 tahun.

Sumber: 

https://hellosehat.com/kehamilan/kesuburan/program-hamil/menentukan-jenis-kelamin-anak-bayi/