Gingivostomatitis adalah penyakit infeksi yang terjadi pada mulut dan gigi. Biasanya, kondisi ini terjadi ketika ada infeksi virus atau bakteri.

Infeksi pada mulut tersebut bisa menyebabkan munculnya luka, lenting, dan sariawan pada mulut. Luka dan sariawan bisa terbentuk di lidah, bawah lidah, bagian dalam pipi, serta bibir dan gusi.

Salah satu penyebab umumnya adalah kesehatan gigi dan mulut yang kurang terjaga, seperti jarang menyikat gigi.

Gingivostomatitis juga sering kali disebut dengan gingivostomatitis herpetika akut dan primer. Kondisi ini banyak ditemukan pada anak-anak dengan infeksi virus herpes tipe 1 (HSV-1).

Tanda dan gejala gingivostomatitis

Di bawah ini adalah beberapa tanda dan gejala gingivostomatitis.

  • Sakit di area mulut dan gusi
  • Gusi membengkak dan memerah
  • Adanya luka atau lenting di gusi, bibir, lidah, bagian dalam pipi, dan langit-langit mulut
  • Demam
  • Produksi air liur meningkat
  • Bau mulut
  • Nafsu makan menurun
  • Beberapa kasus gingivostomatitis bersifat subklinik, yang artinya penyakit tidak parah dan sulit untuk didiagnosis.

Dalam sebagian kasus, beberapa orang mungkin akan melewati satu waktu merasa demam dan lemas sebelum sariawan muncul.

Penyebab gingivostomatitis

Setidaknya ada lima penyebab umum peradangan dan infeksi pada mulut dan gusi, yakni:

  • infeksi akibat virus herpes simplex tipe 1 (HSV-1),
  • infeksi bakteri Streptococcus,
  • infeksi bakteri Actinomyces,
  • infeksi coxsackievirus, dan
  • tidak menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan baik.

Pada anak-anak, infeksi HSV-1 adalah penyebab yang paling banyak ditemukan, dengan sekitar jumlah kasus 90% disebabkan oleh virus tersebut.

Risiko komplikasi gingivostomatitis

Gingivostomatitis yang tidak segera diobati bisa menyebabkan beberapa komplikasi seperti di bawah ini.

1. Infeksi HSV-1 berat

Selain mengenai mulut dan gigi, virus HSV-1 berpotensi menyebar ke bagian mata. Kondisi ini disebut dengan herpes simplex keratitis (HSK).

HSK tak hanya menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman, namun juga berisiko memicu kerusakan mata permanen, bahkan kebutaan.

Biasanya, komplikasi gingivostomatitis yang satu ini banyak terjadi pada bayi dan orang-orang dengan sistem imun tubuh yang buruk.

Baca Juga: Penyebab Munculnya Gigi Berlubang

2. Dehidrasi dan nafsu makan menurun

Sebuah studi dari Journal of Dental Health, Oral Disorders, and Therapy menyebut bahwa 89% anak-anak dengan gingivostomatitis minum lebih sedikit dari biasanya.

Akibatnya, anak-anak lebih rentan mengalami dehidrasi serta kekurangan nutrisi. Gejala-gejalanya dapat meliputi:

  • mulut kering,
  • kulit kering,
  • pusing,
  • merasa lelah,
  • tidur lebih banyak,
  • tidak tertarik dengan aktivitas yang biasanya senang dilakukan, dan sembelit (konstipasi).

Maka itu, untuk mencegah dehidrasi serta kekurangan nutrisi, orang tua harus mengawasi pola makan anak agar kebutuhan nutrisi dan cairannya tetap terjaga.

Diagnosis peradangan gingivostomatitis

Untuk mendiagnosis kondisi ini, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan Anda secara keseluruhan.

Setelah itu, biasanya dokter akan melakukan diagnosis dengan memeriksa kondisi gigi, mulut, dan lidah Anda. Luka dan sariawan yang ada juga akan diperiksa secara saksama.

Anda biasanya tidak perlu menjalani tes kesehatan apa pun. Namun, dalam beberapa kasus, dokter perlu tahu apakah sariawan disebabkan oleh bakteri atau virus dengan cara tes swab.

Baca Juga: Manfaat Humidifier Untuk Memperlancar Pernapasan

Pengobatan gingivostomatitis

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Gingivostomatitis biasanya akan menghilang dalam waktu 2-3 minggu tanpa pengobatan. Dalam sebagian kasus, dokter akan meresepkan obat antibiotik dan membersihkan area infeksi untuk mempercepat penyembuhan.

Jika gigi dan mulut terasa sakit, Anda juga bisa mengonsumsi obat pereda nyeri seperti parasetamol atau ibuprofen.

Berikut adalah beberapa perawatan tambahan yang perlu Anda lakukan di rumah:

  • Kumur dengan air hangat yang dicampur dengan 1/2 sendok teh garam, atau obat kumur dengan kandungan hidrogen peroksida sebanyak 2 kali sehari.
  • Konsumsi makanan yang sehat. Untuk sementara waktu, hindari makanan yang terlalu pedas, asin, atau asam. Makanan tersebut dapat memperparah atau mengiritasi luka di mulut.
  • Selalu jaga kebersihan mulut dan gigi dengan sikat gigi dan flossing setiap hari.

Bagaimana cara mencegah kondisi ini?

Menjaga kesehatan gigi dan mulut dapat mengurangi risiko Anda untuk terkena gingivostomatitis. Berikut adalah beberapa kebiasaan yang bisa Anda terapkan:

  • Sikat gigi Anda setidaknya 2 kali sehari, terutama sehabis makan dan sebelum tidur.
  • Bersihkan sela-sela gigi dengan benang gigi atau dental floss setiap hari.
  • Periksakan gigi ke dokter gigi secara rutin, yaitu setiap 6 bulan sekali.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun mengalir.
  • Menjaga kebersihan peralatan atau perlengkapan yang masuk ke mulut (gigi palsu, retainer, atau alat musik tiup) untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

Untuk mencegah infeksi virus HSV-1, hindari kontak wajah atau bibir dengan orang yang terinfeksi. Pastikan Anda juga tidak berbagi peralatan kosmetik, alat cukur, atau alat makan dengan orang yang terinfeksi.

 

Sumber: hellosehat.com